Rasakanlah
Udara yang membawa sentuhan ku serta
Dengarkanlah
Aku mendedahkan sebuah lagu
Lihatlah
Lembar demi lembar mimpi ku terpacak wajahmu
Hayatilah
Berpuluh-puluh puisi yang ku tulis untuk mu
Rasakanlah
Ketika kau membelakangiku
Kunikmati bayangmu
Rasakanlah
Aku memandangmu tanpa perlu menatap
Aku mendengarmu tanpa perlu alat
Aku menemuimu tanpa perlu hadir
Rasakanlah
Isyarat yang mampu kau tangkap
Tanpa perlu kuucap
Rasakanlah
Pada siut angin
Pada ricik air
Pada terjal gunung
Pada jilat api
Pada jarak yang menebas cakrawala
Itulah saja cara yang ku bisa
Salatiga,Minggu, 29-11-09; 9:48 pm
Kamis, 03 Desember 2009
Scripta Manent !!!
Yang tertulis akan tetap mengabadi
Yang terucap akan berlalu bagai angin ” kata orang bijak suatu ketika”
Bertahun-tahun silam seorang Pramoedya berpesan
Tulislah apa-apa yang kamu lihat saja
Jangan menulis yang gaib-gaib
Dan sekarang,
disinilah aku
Berdiri di tengah hiruk-pikuk dan lalu-lalang makhluk
Beragam rupa dan bentuk
Yang memuji yang mengutuk
beginilah hidup
Kilahku, demi menyederhanakan hidup
Tak akan ada seucap kata tapi,
kan ku torehkan berlembar-lembar kenyataan yg terlahir dari mata pena
Salatiga, Rabu; 9:55 pm
Yang terucap akan berlalu bagai angin ” kata orang bijak suatu ketika”
Bertahun-tahun silam seorang Pramoedya berpesan
Tulislah apa-apa yang kamu lihat saja
Jangan menulis yang gaib-gaib
Dan sekarang,
disinilah aku
Berdiri di tengah hiruk-pikuk dan lalu-lalang makhluk
Beragam rupa dan bentuk
Yang memuji yang mengutuk
beginilah hidup
Kilahku, demi menyederhanakan hidup
Tak akan ada seucap kata tapi,
kan ku torehkan berlembar-lembar kenyataan yg terlahir dari mata pena
Salatiga, Rabu; 9:55 pm
Vox Populi, Vox Dei
Di hingar – bingar suatu masa
simpati mu luas tersemai
bukan keuntungan tapi kesempatan yang ada ditangan
besar –kecil, sedikit –banyak, sesuai keinginan
atas nama Machiavelli kegagalan jatuh jadi hukum penggal
sekejap lupa seperti apa rupa putih dan hitam
tak beda kisah dengan maling kundang
durhaka dirasa bangga
neraka dikira surga
vox populi…….
vox dei…..
tutup mata tutup telinga pada jerit jelata
ingkar sumpah pada Tuhan empunya raya semesta dan,
lupa_lah suara rakyat adalah suara Tuhan
Salatiga: minggu; 29-11-09, 8:00 pm
simpati mu luas tersemai
bukan keuntungan tapi kesempatan yang ada ditangan
besar –kecil, sedikit –banyak, sesuai keinginan
atas nama Machiavelli kegagalan jatuh jadi hukum penggal
sekejap lupa seperti apa rupa putih dan hitam
tak beda kisah dengan maling kundang
durhaka dirasa bangga
neraka dikira surga
vox populi…….
vox dei…..
tutup mata tutup telinga pada jerit jelata
ingkar sumpah pada Tuhan empunya raya semesta dan,
lupa_lah suara rakyat adalah suara Tuhan
Salatiga: minggu; 29-11-09, 8:00 pm
Lelaki Kurus Pecinta Melati
Di tempat maha cahaya lindap menuju pekat
dimana sejumput kisah dan kenang tertinggal benam
kepalang basah sumpah telah terlempar
di depan Si putih, bersih, suci, dan wangi berjuluk melati
Yang tak pernah sempat termiliki
Meski begitu, semerbaknya senantiasa menelikungi
Sampai disini aku tahu
Tak perlu terucap,
aku mampu menangkap
Tak perlu kau usir,
aku sudah beranjak menyingkir
Sungguh,
Pituah mu ku junjung tinggi wahai lelaki kurus pecinta melati
Semua cerita tentang mu ku paksa lumat oleh gulir waktu
Aku kalah
Kalah dengan lakon melati di masa lalu mu
Sapaan sekejap yang membebat relung memang,
Sekalipun Ku paksakan tak akan pernah jadi palung
Jikalau segenap idealisme pencarian sosok telah terpasung
Salatiga: Rabu; 28/10/2009. 11:27 pm
dimana sejumput kisah dan kenang tertinggal benam
kepalang basah sumpah telah terlempar
di depan Si putih, bersih, suci, dan wangi berjuluk melati
Yang tak pernah sempat termiliki
Meski begitu, semerbaknya senantiasa menelikungi
Sampai disini aku tahu
Tak perlu terucap,
aku mampu menangkap
Tak perlu kau usir,
aku sudah beranjak menyingkir
Sungguh,
Pituah mu ku junjung tinggi wahai lelaki kurus pecinta melati
Semua cerita tentang mu ku paksa lumat oleh gulir waktu
Aku kalah
Kalah dengan lakon melati di masa lalu mu
Sapaan sekejap yang membebat relung memang,
Sekalipun Ku paksakan tak akan pernah jadi palung
Jikalau segenap idealisme pencarian sosok telah terpasung
Salatiga: Rabu; 28/10/2009. 11:27 pm
ATEIS
Ternyata sungguh tipis benar jarak antara taqwa dan murtad itu. Setipis jarak antara hidup - mati, cinta dan benci, “kata mu di suatu petang yang beringsut menghantarkan malam ke peraduan”. Aku yang berada di samping mu hanya bisa mengangguk dan memaklumkan semua kemalangan yang sedang menimpa mu. Tiada mampu berbuat banyak, kecuali hanya jadi pendengar yang baik. Mendengarkan tanpa perlu menghakimi tepatnya. Aku yakin, tanpa perlu ku cecar dengan berbagai penilaian pun kau akan tahu, bahwa langkahmu itu salah. Karena apa?! Karena aku tahu, kau memiliki akal. Sebuah alat sensorik alamiah anugerah dari Ilahi yang diberikan pada tiap makhluknya, sehingga apabila kita melakukan sedikit kekeliruanpun akal akan mampu mendeteksinya melebihi dari analisis ahli jiwa manapun di belahan bumi ini. Sedari awal aku sudah menerka jalan yang kau tempuh sudah keluar dari jalur kawanku, tapi aku bisa apa??!!.
Sebelum meninggalkan ku pokoknya dia harus menawarkan pemahaman ku kembali tentang agama seperti semula, “dia melanjutkan ceritanya sambil sesekali menghapus titik-titik air mata di cekung matanya”. Kalau hanya perbedaan keyakinan diantara kami yang menjadikan murka keluarga dan mematahkan semua pengharapan ku itu belum apa-apa yang paling tidak bisa kuterima adalah ketika dalam masa penantian ini ternyata aku sudah menyia-nyiakan semuanya. Menjalani semua dengan setengah-setengah, pekerjaanku, sholatku, ibadahku, kepercayaanku pada sang khalik. “Hmmm…” helaan nafas panjang mu menghantarkan kita pada jeda keheningan, hanyut dalam alam pikiran masing-masing, yang sama-sama sedang rapuh karena tempaan hidup dan coba yang bertubi. Berharap helaan nafas panjang mampu membebat luka kehidupan yang nyaris tak pernah kering.
Ahh….sejauh ini sudah aku melangkah, tapi apa yang ku dapatkan?! semua hanya kesia-siaan belaka. Aku telah dicekoki olehnya, aku telah tergoyahkan oleh cara berpikir dan segala falsafah hidupnya, termasuk pandangannya yang meragukan adanya Sang Pencipta. Dia sering berargumen bahwa manusia itu sendiri yang menciptakan sosok Tuhan, dan bukan Tuhan yang menciptakan manusia. Mesti dengan istilah apalagi coba tepatnya harus ku sebut kalau bukan Ateis. Iya, kawan, aku mencintai seorang Ateis, “ceritamu kemudian, seraya menenggelamkan wajah di balik jemari sambil berusaha menyeka jejak air mata yang meninggalkan bekas disana”. Seorang sarjana teologi yang ateis, sungguh ironis bukan?! “katamu, memberi penekanan”.
(Rabu, 9:10 pm)
Sebelum meninggalkan ku pokoknya dia harus menawarkan pemahaman ku kembali tentang agama seperti semula, “dia melanjutkan ceritanya sambil sesekali menghapus titik-titik air mata di cekung matanya”. Kalau hanya perbedaan keyakinan diantara kami yang menjadikan murka keluarga dan mematahkan semua pengharapan ku itu belum apa-apa yang paling tidak bisa kuterima adalah ketika dalam masa penantian ini ternyata aku sudah menyia-nyiakan semuanya. Menjalani semua dengan setengah-setengah, pekerjaanku, sholatku, ibadahku, kepercayaanku pada sang khalik. “Hmmm…” helaan nafas panjang mu menghantarkan kita pada jeda keheningan, hanyut dalam alam pikiran masing-masing, yang sama-sama sedang rapuh karena tempaan hidup dan coba yang bertubi. Berharap helaan nafas panjang mampu membebat luka kehidupan yang nyaris tak pernah kering.
Ahh….sejauh ini sudah aku melangkah, tapi apa yang ku dapatkan?! semua hanya kesia-siaan belaka. Aku telah dicekoki olehnya, aku telah tergoyahkan oleh cara berpikir dan segala falsafah hidupnya, termasuk pandangannya yang meragukan adanya Sang Pencipta. Dia sering berargumen bahwa manusia itu sendiri yang menciptakan sosok Tuhan, dan bukan Tuhan yang menciptakan manusia. Mesti dengan istilah apalagi coba tepatnya harus ku sebut kalau bukan Ateis. Iya, kawan, aku mencintai seorang Ateis, “ceritamu kemudian, seraya menenggelamkan wajah di balik jemari sambil berusaha menyeka jejak air mata yang meninggalkan bekas disana”. Seorang sarjana teologi yang ateis, sungguh ironis bukan?! “katamu, memberi penekanan”.
(Rabu, 9:10 pm)
Rabu, 04 November 2009
Aku dan Kawanku
Aku dan kau sama-sama merasa
Kaca kecil itu telah retak
Pecah pula
Masih mampu merekat memang
Meski bekasnya akan turut lekat
Terlebih pecahan itu terus berulang
Sesudahnya,
ku busungkan dada sambil berujar
Kau tahu kawan
Akulah arvatar Abu Dzar Al Ghifari
Hidup sendirian
Mati sendirian
Tapi kau jangan salah
Sendirian tidak berarti sengsara
Tapi aku ini manusia biasa
Yang mudah rindu rasa, rindu rupa
Begitu baris syair Amir Hamzah suatu ketika
Dan sekarang disinilah aku
Merapal beribu kata klise “aku merindukan mu”
Maafkan aku kawan,
Perbedaan ideologi ini memaksaku meretas jarak
Jarak yang cukup jauh
Asal kau tahu,
Pemikiran ku liat beradu dengan orang yang ku sebut sebagai “ibu”
Dan aku kandas dalam pengabdian
Aku hancur dalam kepatuhan
Namun belum mati
Dalam kepasrahan aku masih berjuang
kawan,
pikiranku masih tajam terasah
lebih hebat dari dulu malah
mereka boleh memasung ragaku
tapi tidak dengan pikiran ku
tetaplah berjuang
dan aku pun akan berjuang dengan cara ku
PS: One night a star dropped. It asked me to choose between one-million-dollars and a bestfriend. Than, I choose the first one, because I have already had you.
Salatiga: we 04/11/2009. 1:39 am
Kaca kecil itu telah retak
Pecah pula
Masih mampu merekat memang
Meski bekasnya akan turut lekat
Terlebih pecahan itu terus berulang
Sesudahnya,
ku busungkan dada sambil berujar
Kau tahu kawan
Akulah arvatar Abu Dzar Al Ghifari
Hidup sendirian
Mati sendirian
Tapi kau jangan salah
Sendirian tidak berarti sengsara
Tapi aku ini manusia biasa
Yang mudah rindu rasa, rindu rupa
Begitu baris syair Amir Hamzah suatu ketika
Dan sekarang disinilah aku
Merapal beribu kata klise “aku merindukan mu”
Maafkan aku kawan,
Perbedaan ideologi ini memaksaku meretas jarak
Jarak yang cukup jauh
Asal kau tahu,
Pemikiran ku liat beradu dengan orang yang ku sebut sebagai “ibu”
Dan aku kandas dalam pengabdian
Aku hancur dalam kepatuhan
Namun belum mati
Dalam kepasrahan aku masih berjuang
kawan,
pikiranku masih tajam terasah
lebih hebat dari dulu malah
mereka boleh memasung ragaku
tapi tidak dengan pikiran ku
tetaplah berjuang
dan aku pun akan berjuang dengan cara ku
PS: One night a star dropped. It asked me to choose between one-million-dollars and a bestfriend. Than, I choose the first one, because I have already had you.
Salatiga: we 04/11/2009. 1:39 am
Kamis, 17 September 2009
Sesaat "Setelah Gerimis"
Tatkala sayup redup angin mendendang
percik gerimis menghujam bumi
serta merta seribu keagungan turut bersemi
sebuah kealamian sejati
lama sekali tiada ku dapati
tenang, damai ku resapi
bau itu,
aku menyukai bau tanah seusai gerimis
sesaat setelah gerimis
percik gerimis menghujam bumi
serta merta seribu keagungan turut bersemi
sebuah kealamian sejati
lama sekali tiada ku dapati
tenang, damai ku resapi
bau itu,
aku menyukai bau tanah seusai gerimis
sesaat setelah gerimis
Langganan:
Postingan (Atom)

+Recovery.bmp)
